- Komisi I DPR RI Kunjungi Markas Korem 101/Antasari Bahas Kodam Baru
- Pemprov Kalsel Fasilitasi 150 Lulusan SMA Kuliah Luar Negeri
- Kementrian PU Rencanakan Bangun Jembatan Barito Dua
- Tolak Instruksi Menhub Ratusan Massa Datangi KSOP Banjarmasin
- Komitmen Dukung Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Gubernur Kalsel Terima Universal Health Coverage (UHC) Awards Tahun 2026 Kategori Madya
- Gubernur Kalsel Resmikan Lapangan Tenis Binda Kalsel, Hj Fathul Jannah Tekankan Olahraga sebagai Jembatan Silaturahmi
- Sheila On 7 Guncang Buzz Youth FestPuluhan Ribu Penonton Bernyanyi Bersama
- Ketua TP PKK Kalsel Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Banjir di Jejangkit Batola
- Wayang Golek Sunda: Sejarah, Perkembangan, dan Nilai Budaya Sejak Abad ke-17
- Kehangatan di RS Bhayangkara, Gubernur dan Kapolda Kalsel Dampingi Dua Anak Yatim Pejuang Kesembuhan
Kasus HIV dan Kekerasan Seksual Mengkhawatirkan, KOPRI PMII Banjarbaru Desak Pemko Ambil Langkah Darurat

BANJARBARU, smartbanua.com – Kota Banjarbaru kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan lonjakan persoalan sosial dan kesehatan, khususnya tingginya kasus HIV/AIDS serta meningkatnya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.
Korps PMII Putri (KOPRI) PC PMII Banjarbaru menegaskan bahwa kondisi ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data kumulatif, Banjarbaru kini berada di peringkat kedua kasus HIV terbanyak di Kalimantan Selatan, yaitu 688 kasus, dengan 99 di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Baca Lainnya :
- Bea Cukai Kalsel Musnahkan Jutaan Batang Rokok Ilegal dan Miras0
- Kalsel Innovation Award 2025: SKPD, Daerah, dan Masyarakat Tunjukkan Lonjakan Inovasi0
- Erupsi Gunung Semeru: 956 Warga Mengungsi, Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat0
- Status Gunung Semeru Naik ke Level Awas, Warga Mengungsi ke Zona Aman0
- Suplai Pertamax Kalsel Kembali Normal, Distribusi Pertamina Lancar Lagi0
“Ini bukan sekadar statistik. Ini tanda bahaya bagi Banjarbaru,” tegas Ketua KOPRI Banjarbaru, Wahyuni, dalam rilis resmi, Selasa (18/11/2025). Menurutnya, lonjakan kasus menunjukkan adanya persoalan sosial yang tidak sederhana dan harus segera ditangani bersama.
Kekerasan Seksual Masih Didominasi Pelaku dari Keluarga Sendiri
Selain peningkatan kasus HIV, KOPRI juga menyoroti maraknya kekerasan seksual di Banjarbaru. Dalam audiensi bersama Pemerintah Kota, mereka menyampaikan bahwa mayoritas korban adalah perempuan dan anak, sedangkan pelaku sering berasal dari lingkungan terdekat.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemkot Banjarbaru, Rizana Mirza, membenarkan kondisi tersebut.
“Yang paling memilukan adalah ketika pelakunya justru orang dekat korban, bahkan keluarga sendiri,” ujar Mirza.
Ia juga menambahkan bahwa banyak korban anak memilih diam karena takut, malu, dan tidak mengetahui alur pelaporan, sehingga kasus sering tidak terungkap.
Dinas Kesehatan: Deteksi Dini Berperan pada Tingginya Angka Temuan
Perwakilan Dinas Kesehatan Banjarbaru, Bintang, menjelaskan bahwa angka HIV yang tinggi tidak sepenuhnya menggambarkan sebaran lokal, tetapi juga dipengaruhi oleh keberhasilan program deteksi dini.
“Sebagian pasien berasal dari daerah lain, tetapi menjalani pengobatan di Banjarbaru. Seluruh layanan tetap diberikan secara gratis,” kata Bintang.
Ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar masyarakat tidak terlambat melakukan pemeriksaan ataupun pengobatan.
KOPRI Siapkan Program Perlindungan Anak dan Upaya Pencegahan Berkelanjutan
Melihat kompleksitas persoalan, KOPRI PMII Banjarbaru mendorong Pemkot untuk membangun strategi intervensi nyata, bukan sekadar pendekatan normatif.
Salah satu langkah yang sedang mereka siapkan adalah program pelatihan bela diri dasar untuk anak-anak di panti asuhan. Program ini ditujukan untuk membantu anak-anak memiliki kemampuan perlindungan diri sejak dini, terutama mereka yang masuk kategori rentan.
“Kami ingin hadir langsung di lapangan, bukan hanya menyampaikan kritik,” ujar Wahyuni.
KOPRI berharap audiensi kali ini membuka jalan kolaborasi yang lebih aktif dengan Pemkot Banjarbaru, sehingga penanganan kasus HIV/AIDS dan kekerasan seksual bisa dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan. (/smartbanua)
