- Puisi sebagai Ruang Membaca Realitas: Buku Pesiar Tanpa Berlayar Dibedah di Kampung Buku Banjarmasin
- Gubernur H. Muhidin Berbuka Puasa Bersama Ketua DPRD Kalsel; Keberhasilan Pembangunan Sinergi Kuat Pemerintah, Legislatif dan Masyarakat
- Kantor Gubernur Kalsel dan Gedung Idham Chalid Resmi Kantongi PBG dan SLF dari Pemkot Banjarbaru
- Gubernur Kalsel H. Muhidin Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Mahligai Pancasila, Penyegaran Birokrasi di Bulan Ramadan
- Amankan Mudik Lebaran 2026 Polda Kalsel Kerahkan 2.189 Personel Gabungan
- Puncak Arus Mudik Kapal Laut Banjarmasin–Surabaya Diprediksi 14–18 Maret 2026
- Polda Kalsel Gelar Pasar Murah Jelang Idul Fitri, Jaga Stabilitas Harga Pangan
- Tahura Sultan Adam Siap Jadi Pilihan Wisata Alam Saat Libur Lebaran
- TP PKK Kalsel Gelar Bakti Sosial Ramadan di Tanah Laut, Pasar Murah hingga Sunatan Massal untuk Warga
- Ketua BKOW Kalsel Ellyana Trisya Hasnuryadi Gelar Khataman Al-Quran 17 Ramadan Bersama Nur Sulaiman Community di Banjarmasin
Puisi sebagai Ruang Membaca Realitas: Buku Pesiar Tanpa Berlayar Dibedah di Kampung Buku Banjarmasin


Upaya memperkuat ekosistem literasi anak muda kembali digelar di Kampung Buku Banjarmasin melalui kegiatan Bincang Literasi yang membedah buku Antologi Puisi Pesiar Tanpa Berlayar. Diskusi yang berlangsung Rabu (11/3/2026) malam itu menempatkan puisi bukan sekadar karya estetis, tetapi sebagai medium membaca realitas sosial.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan komunitas Kula.Ant (Kulawarga Antropologi) Universitas Lambung Mangkurat tersebut digelar di Kambuk Banjarmasin seusai salat tarawih, sekitar pukul 21.00 WITA. Sejumlah anak muda tampak memadati ruang diskusi, duduk melingkar dan menyimak pembahasan buku secara santai namun serius.
Baca Lainnya :
- Gubernur H. Muhidin Berbuka Puasa Bersama Ketua DPRD Kalsel; Keberhasilan Pembangunan Sinergi Kuat Pemerintah, Legislatif dan Masyarakat0
- Kantor Gubernur Kalsel dan Gedung Idham Chalid Resmi Kantongi PBG dan SLF dari Pemkot Banjarbaru0
- Gubernur Kalsel H. Muhidin Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Mahligai Pancasila, Penyegaran Birokrasi di Bulan Ramadan0
- Amankan Mudik Lebaran 2026 Polda Kalsel Kerahkan 2.189 Personel Gabungan0
- Puncak Arus Mudik Kapal Laut Banjarmasin–Surabaya Diprediksi 14–18 Maret 20260
Dalam diskusi itu, dua pembicara yakni Arief Rahman Heriansyah dan Rafii Syihab mengulas bagaimana puisi dalam antologi tersebut merepresentasikan pengalaman generasi muda, mulai dari refleksi personal hingga potret sosial yang mereka temui sehari-hari.
Forum ini juga menghadirkan para penulis muda yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut, di antaranya M Rahim Arza, Muhammad Daffa, Wildanne, dan Muchlis Abdi. Kehadiran mereka memberi ruang dialog langsung antara penulis dan pembaca mengenai proses kreatif, gagasan, serta konteks yang melatarbelakangi lahirnya puisi-puisi dalam buku itu.
Tak hanya dihadiri komunitas literasi, diskusi juga diikuti akademisi dan mahasiswa. Pertemuan lintas komunitas ini menunjukkan bahwa ruang literasi independen seperti Kampung Buku memiliki peran penting dalam mempertemukan praktik kreatif, diskursus akademik, dan partisipasi publik.
Melalui forum seperti ini, puisi diposisikan bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai cara generasi muda memahami, merekam, dan merespons realitas di sekitarnya.
Diawali dengan pemantik Rafii Syihab, seorang pendiri Arkalitera sekaligus pemerhati sastra, menyampaikan bahwa dialektika dalam dunia sastra tidak seharusnya berhenti hanya pada karya-karya lama atau pada bentuk sastra yang sudah mapan. Menurutnya, pembahasan sastra perlu terus berkembang dengan melihat apa yang sebenarnya dibaca dan ditulis pada masa kini.
Ia menilai diskursus sastra kerap terjebak pada karya-karya yang dianggap “adiluhung” atau pada jenis sastra tertentu saja. Padahal, sastra hari ini berkembang dengan berbagai bentuk dan pendekatan baru yang juga layak diperhatikan.
Rafii menjelaskan bahwa gagasan tersebut menjadi salah satu alasan ia mendirikan Arkalitera. Ia melihat masih banyak aspek sastra yang kurang mendapatkan perhatian dalam diskusi publik, termasuk karya-karya yang berada di luar arus utama.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah pembahasan mengenai novel populer. Menurutnya, sejumlah pengamat sastra, seperti Budi Kurniawan dan Dewi Alfianti, pernah membahas bahwa novel populer sering kali berbicara tentang pengalaman atau dunia yang dekat dengan penulisnya sendiri. Namun, ia menilai pembahasan tersebut masih bisa diperluas dengan melihat konteks sosial dan budaya yang lebih beragam.
Rafii juga menekankan pentingnya membaca karya sastra dalam konteks lokal. Ia mencontohkan perlunya mengenal dan mengkaji penulis dari berbagai daerah, seperti Bali, serta melihat karya mereka tidak hanya sebagai ekspresi personal, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial dan kebudayaan.
Lebih jauh, Rafii mengkritisi cara pandang yang sempit terhadap konsep kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan tidak semata-mata berkaitan dengan identitas etnik, ritual, atau unsur-unsur yang dianggap eksotis. Kebudayaan, katanya, justru lahir dari ruang hidup sehari-hari masyarakat.
“Kalau kita tinggal di daerah pasar, maka kehidupan pasar itu juga bagian dari kebudayaan kita,” ujarnya.
Rafii menilai, ketika juri, redaktur, atau pihak lain hanya memaknai kebudayaan sebagai sesuatu yang bersifat mistis atau eksotik, maka karya-karya yang muncul dan mendapat perhatian sering kali hanya berkisar pada tema-tema tersebut.
Karena itu, Rafii menilai persoalan ini penting untuk terus didiskusikan agar pembacaan terhadap sastra dan kebudayaan menjadi lebih luas dan kontekstual.
Sementara itu, penulis muda Arief Rahman Heriansyah, salah satu kontributor dalam antologi puisi Pesiar Tanpa Berlayar, menyampaikan pandangannya tentang puisi dalam sebuah forum diskusi sastra. Dalam pernyataannya, ia menilai puisi sebagai ruang ekspresi yang bebas dimaknai oleh siapa saja.
Menurut Arief, perbedaan sudut pandang antara penulis, pengajar, maupun pembaca merupakan hal yang wajar dalam menilai karya puisi. Ia menyebutkan bahwa puisi pada dasarnya terbuka untuk berbagai penafsiran.
“Sejatinya sebuah karya puisi itu bebas untuk dinilai. Pemaknaannya sering kali tidak sama antara satu pembaca dengan pembaca lainnya. Justru di situlah letak keindahan puisi,” ujarnya.
Arief menjelaskan bahwa antologi Pesiar Tanpa Berlayar ditulis oleh 14 penulis muda yang berasal dari Kalimantan Selatan. Meski sebagian berasal dari daerah yang sama, para penulis memiliki latar belakang sosial yang berbeda-beda.
Perbedaan latar belakang tersebut, menurutnya, turut memengaruhi gaya penulisan, penggunaan metafora, serta pilihan diksi dalam setiap puisi yang ditulis.
“Latar belakang sosial para penulis sangat beragam. Itu yang kemudian melahirkan puisi dengan metafora, diksi, dan perbendaharaan kata yang berbeda-beda,” katanya.
Arief juga menyampaikan pandangan pribadinya mengenai makna puisi bagi seorang penulis. Baginya, puisi merupakan bentuk dialog batin seseorang dengan dirinya sendiri.
“Ketika seseorang menulis puisi, itu adalah seni manusia berbicara dengan dirinya sendiri. Terkadang ada hal-hal yang tidak bisa kita sampaikan secara verbal kepada orang lain, tetapi bisa kita ungkapkan melalui puisi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa puisi bahkan bisa menjadi karya yang “egois”, karena setiap pembaca dapat menangkap makna yang berbeda dari teks yang sama.
Berbeda dengan seni pertunjukan seperti teater, tari, atau musik yang cenderung memberikan gambaran makna secara langsung, puisi justru membuka ruang interpretasi yang luas bagi pembacanya.
“Ada pembaca yang merasa tidak paham dengan sebuah puisi, seolah hanya penulisnya yang tahu maknanya. Namun ada juga penulis yang menulis secara spontan, dan justru pembaca menemukan makna yang sangat dalam di dalamnya,” ungkap Arief.
Menurutnya, dinamika penafsiran inilah yang membuat puisi tetap menarik dan terus hidup di tengah pembacanya.
Dalam kesempatan tersebut, Arief juga mengajak peserta diskusi untuk berdialog langsung dengan para penulis yang terlibat dalam antologi tersebut. Ia membuka ruang bagi pembaca untuk mempertanyakan proses kreatif di balik lahirnya sebuah puisi.
Menariknya, judul antologi Pesiar Tanpa Berlayar juga merupakan salah satu judul puisi yang ditulis oleh Arief sendiri. Di dalam buku tersebut terdapat sekitar 50 puisi karya para penulis yang terlibat. (M Rahim Arza/Smartbanua)



