- Curah Hujan Menurun, Pemprov Kalsel Tingkatkan Kesiapsiagaan Karhutla
- Kisah Muda Tan Malaka, Novel Karya Sjarapuddin Dibedah di Banjarmasin
- Museum Lambung Mangkurat Kini Ruang Belajar Inovatif bagi Generasi Muda
- Dispora Kalsel Siapkan Wirausaha Muda Melek Digital
- BKOW Kalsel Gelar Sunatan Massal Gratis, Ellyana Trisya Hasnuryadi: Wujud Kepedulian untuk Anak Kurang Mampu
- Terpilih Aklamasi, Hasnuryadi Sulaiman Komitmen Perkuat Pembinaan Atlet dan Prestasi KONI Kalsel
- Sekdaprov Kalsel Sambut Kunjungan Spesifik Komisi IV DPR RI, Bahas Ketahanan Pangan dan Antisipasi El Nino
- Gubernur Kalsel H. Muhidin Hadiri Seminar Perdana Pembentukan Adhyaksa Chamber di ULM Banjarmasin
- SPMB 2026 di Kalsel Berjalan Lancar
- Gubernur H. Muhidin Resmi Canangkan Kabupaten Tanah Laut Sentra Jagung di Kalsel; Komitmen Mendukung Kebijakan Nasional Percepatan Pengembangan Jagung
Kisah Muda Tan Malaka, Novel Karya Sjarapuddin Dibedah di Banjarmasin


Iput Sjarapuddin berusaha mengembalikan Tan Malaka sebagai manusia yang sejak muda hidup dalam pengalaman diskriminasi rasial dan pergulatan batin, bukan sekadar tokoh revolusi.
Di hadapan puluhan peserta bedah buku, Iput Sjarapuddin tidak langsung berbicara tentang revolusi, ideologi, atau perdebatan politik yang selama puluhan tahun melekat pada nama Tan Malaka. Hal itu menjadi perbincangan karya perdananya di Cafe Redlane, Gedung Batas Kota, Banjarmasin, Selasa (30/6/2026) siang.
Baca Lainnya :
- Museum Lambung Mangkurat Kini Ruang Belajar Inovatif bagi Generasi Muda0
- Dispora Kalsel Siapkan Wirausaha Muda Melek Digital 0
- BKOW Kalsel Gelar Sunatan Massal Gratis, Ellyana Trisya Hasnuryadi: Wujud Kepedulian untuk Anak Kurang Mampu0
- Terpilih Aklamasi, Hasnuryadi Sulaiman Komitmen Perkuat Pembinaan Atlet dan Prestasi KONI Kalsel0
- Sekdaprov Kalsel Sambut Kunjungan Spesifik Komisi IV DPR RI, Bahas Ketahanan Pangan dan Antisipasi El Nino0
Ia justru mengajak audiens melihat sosok itu dari sisi yang lebih sunyi.
"Dalam buku-buku pemikirannya, kita mengenal Tan Malaka sebagai filsuf, pejuang, dan revolusioner. Tapi hampir tidak pernah melihat bagaimana ia merasa takut, sedih, atau jatuh cinta," kata mantan wartawan Radar Banjarmasin yang kini menetap di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Iput kini menekuni atau menggeluti karya sastra sebagai sarana meluapkan gagasannya ke dalam tulisan. Lewat karya Patah Hati Tan Malaka, ia menceritakan proses kreatif yang memakan waktu 7 Minggu untuk menyelesaikan karya prosa tersebut.
Buku itu bukan menggantikan sejarah, melainkan menyibak sisi manusia yang selama ini tenggelam di balik tokoh besar. Ia menemukan satu benang merah yang terus mengikuti perjalanan hidup Tan Malaka sejak usia muda: pengalaman menjadi sasaran rasisme.
Sebagai pelajar bumiputra di negeri kolonial, Tan Malaka berhadapan dengan tatapan yang membedakan warna kulit, asal-usul, dan kelas sosial. Pengalaman-pengalaman itulah, menurut Iput, meninggalkan jejak batin yang kemudian ikut membentuk cara pandangnya terhadap ketidakadilan.
"Orang sering melihat Tan Malaka hanya dari gagasan politiknya. Padahal, sebelum menjadi pemikir besar, ia adalah seorang manusia yang mengalami pergulatan hidup," ujarnya.
Pergulatan itu tidak selalu tercatat dalam dokumen sejarah.
Ada ruang-ruang kosong yang tidak dijelaskan autobiografi maupun arsip. Kehidupan pribadinya hanya muncul sekilas. Nama-nama orang yang dekat dengannya disebut tanpa cerita. Emosi dan keraguannya nyaris tak terdengar.
Di ruang kosong itulah Iput memilih masuk.
Ia mengaku sengaja memadukan fakta sejarah dengan fiksi untuk menghadirkan sisi sentimental Tan Malaka. Namun satu batas tetap dijaganya: pemikiran Tan Malaka tidak boleh direkayasa.
"Kalau ada benturan antara fakta sejarah dan kebutuhan artistik, saya memilih kebutuhan fiksi. Tapi saya tidak mengarang pemikiran Tan Malaka," katanya.
Keputusan itu lahir setelah pergulatan panjang. Sebagai wartawan selama belasan tahun, ia terbiasa hidup dengan disiplin verifikasi. Menulis novel membuatnya harus berdamai dengan kemungkinan bahwa tidak semua adegan dapat dibuktikan secara historis.
Ia bahkan pernah dihantui ketakutan telah melampaui batas antara sejarah dan imajinasi.
Hingga seseorang yang dihormatinya memberi nasihat singkat.
"Jebol saja batasnya."
Sejak itu, Iput mulai melihat novel bukan sebagai buku sejarah, melainkan cara lain untuk memahami manusia di balik tokoh.
Dalam pandangan Iput, pengalaman Tan Malaka menghadapi rasisme sejak muda, pengasingan, kesepian, hingga relasi-relasi personalnya bukan sekadar pelengkap cerita. Semua itu menjadi jalan untuk memahami bagaimana seorang manusia ditempa oleh luka, lalu mengubah luka itu menjadi gagasan.
Karena pada akhirnya, revolusi tidak lahir dari ruang hampa.
Ia tumbuh dari pengalaman hidup seseorang yang pernah diperlakukan berbeda, mengalami penolakan, dan terus bergulat dengan dirinya sendiri.
Melalui Patah Hati Tan Malaka, Iput tidak berusaha menulis ulang sejarah. Ia hanya mengajak pembaca melihat bahwa di balik nama besar seorang revolusioner, selalu ada seorang manusia yang lebih dahulu belajar bertahan dari luka.




(M Rahim Arza)
