- Tolak Instruksi Menhub Ratusan Massa Datangi KSOP Banjarmasin
- Komitmen Dukung Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Gubernur Kalsel Terima Universal Health Coverage (UHC) Awards Tahun 2026 Kategori Madya
- Gubernur Kalsel Resmikan Lapangan Tenis Binda Kalsel, Hj Fathul Jannah Tekankan Olahraga sebagai Jembatan Silaturahmi
- Sheila On 7 Guncang Buzz Youth FestPuluhan Ribu Penonton Bernyanyi Bersama
- Ketua TP PKK Kalsel Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Banjir di Jejangkit Batola
- Wayang Golek Sunda: Sejarah, Perkembangan, dan Nilai Budaya Sejak Abad ke-17
- Kehangatan di RS Bhayangkara, Gubernur dan Kapolda Kalsel Dampingi Dua Anak Yatim Pejuang Kesembuhan
- Gemar Minum Susu Akan Diperkuat di Kalsel
- Rekonstruksi Pembunuhan Mahasiswi ULM, Seili Peragakan 18 Adegan
- Tulisan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Berubah Biru, Ini Penjelasan Pengelola
Komdigi Dorong Redaksi Modern Beretika di Era AI

Bandung, smartbanua.com — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya transformasi menuju redaksi modern yang tetap berpegang pada etika dan regulasi dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyampaikan hal tersebut dalam diskusi “MediaConnect: Dari Cepat Jadi Cermat – Menyikapi AI di Meja Redaksi”. Menurut Nezar, redaksi dewasa ini tidak hanya dituntut untuk cepat dalam penyajian informasi, tetapi juga menjaga integritas dan akurasi konten di tengah maraknya otomatisasi.
Baca Lainnya :
- Fenomena Motor Brebet di HST, Warga Keluhkan Pertalite Diduga Bermasalah0
- Disdikbud Kalsel Gelar Festival Wayang Kulit Banjar untuk Apresiasi Seniman Pewayangan0
- Pemprov Kalsel Percepat Penerbitan SK PPPK Paruh Waktu, 6.403 Pegawai Segera Dilantik0
- Gubernur Kalsel H. Muhidin Buka Rakor Pendidikan 2025, Perkuat Sinergi dan Rayakan Hari Guru Nasional0
- Apresiasi Pendidikan Kalsel 2025: Gubernur Muhidin Anugerahkan Penghargaan untuk Daerah dan Pendidik Berprestasi0
AI kini telah menjadi bagian dari alur kerja redaksi modern — fungsi seperti proofreading, penerjemahan, transkripsi, hingga analisis awal banyak dibantu oleh teknologi. Namun Nezar menekankan bahwa penggunaan AI tidak boleh menggantikan sepenuhnya peran manusia. Pemakaian AI harus didampingi oleh analisis kritis, verifikasi fakta, dan penulisan yang tetap mempertahankan karakter jurnalistik.
Untuk memastikan transformasi redaksi tetap berada pada koridor etika, Komdigi tengah menyelesaikan penyusunan dua dokumen penting: Peta Jalan Nasional AI dan Pedoman Etika AI. Dua dokumen ini ditargetkan menjadi regulasi resmi lewat Peraturan Presiden (Perpres). Regulasi diharapkan menjadi acuan bagi media dan institusi dalam menerapkan teknologi AI secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan data.
Narasumber dari media — seperti pemimpin redaksi di salah satu media besar — mengingatkan bahwa media harus menetapkan batasan jelas dalam penggunaan AI. Di beberapa media, AI hanya diperbolehkan untuk brainstorming atau pekerjaan pendukung, sementara naskah utama tetap ditulis dan diverifikasi oleh manusia. Ini dianggap penting untuk menjaga nilai orisinalitas dan integritas jurnalistik di era di mana konten otomatis semakin melimpah.
Salah satu ahli AI dan penasihat kreatif yang dikutip menyatakan bahwa meskipun AI efektif dalam mengolah data, mesin tidak dapat menggantikan sentuhan manusia — intuisi, pengalaman, empati, dan nilai etika — yang tetap menjadi ciri khas redaksi berkualitas.
Dengan semakin meluasnya pemanfaatan AI dalam dunia media, transformasi redaksi modern — dengan pondasi etika, regulasi, dan manusia sebagai kontrol utama — dianggap krusial agar jurnalisme tetap kredibel, akurat, dan bertanggung jawab. (/smartbanua)
